NTT Potensial Jadi Lumbung Produksi Gula Nasional

Berdasarkan beberapa kajian ekonomi dan keuangan di Provinsi Nusa Tenggara Timut (NTT) digadang-gadang sangat cocok menjadi salah satu wilayah potensial untuk pengembangan produksi Agroindustri gula berskala nasional di Indonesia.

Sementara, Agroekologi BPPT NTT (2007) menyebutkan di NTT sendiri masih terdapat sekitar 439.203 ha lahan potensial untuk pertanian kering (tebu, jagung, dan lain-lain). Lahan tersebut tersebar di Pulau Sumba, Flores dan Pulau Timor yang sama sekali belum dimanfaatkan dengan baik.

Melihat data tersebut jika lahan yang potensial itu  bisa dimanfaatkan dengan baik dan semaksimal mungkin, NTT Bisa menambah hampir dua kali lipat jumlah produksi gula nasional dengan pengembangan agroindustry gula berskala nasional.

Pemerintah Provinsi NTT melihat potensi ini mulai menjalin beberapa kerjasama dengan investor untuk mau berinvestasi dengan membuka perkebunan tebu dan pabrik gula. Keingingan ini tentunya sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia untuk bisa swasembada gula di tahun 2020.

Hingga saat ini produksi gula nasional masih berkisar di angka 2,2 hingga 2,5 juta ton per tahun. Angka ini tentu sangat rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan gula dalam negeri yang jumlahnya diperkirakan mencapai 5,7 juta ton per tahun bahkan lebih.

Diprediksi, kebutuhan gulapun akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah industri makanan dan minuman di dalam negeri. Jika hal ini terus berlangsung maka bisa dipastikan akan mengakibatkan neraca perdagangan gula Indonesia defisit.

Selama ini pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri melalui keran impor dari berbagai Negara eksportir gula seperti Thailand, Brasil, dan lain sebagainya. Selain menyebabkan cost yang lebih mahal, tingginya impor gula dari tahun ke tahun juga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pemerintah.

Oleh karena itu, pemerintah memberikan perhatian secara khusus terkait gula dengan menargetkan Indonesia swasembada gula pada tahun 2020 dengan target produksi mencapai 6,8 juta ton untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri, tulis Bank Indonesia.

Dan salah satu daerah yang dirasa memiliki potensi untuk pengembangan agroindustri untuk tebu dan pabrik gula adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hanya tinggal mencari investor yang benar-benar mau mengembangkan potensi ini secara maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *